BAB I.PENDAHULUAN
1.1.PENDAHULUAN
Hubungan antara
masyarakat dengan lingkungannya
dalam memenuhi kebutuhan hidup berlangsung
sepanjang masa, sedangkan
sifat dan intensitasnya
mengalami perubahan sejalan dengan
perkembangan kependudukkan dan
kebudayaannya. Kehidupan masyarakat desa
sangat bergantung pada
sumber daya alam
yang tersedia disekitarnya, fungsi tata
guna lahan (pertanian
dan hutan) sebagai
sumber daya alam memberikan manfaat pengetahuan dan juga
pengalaman masyarakat lokal tentang pemanfaatan berbagai tumbuhan dalam
kehidupan sehari-harinya.
Aren [Arenga
pinnata (Wurmb.) Merr.]
merupakan salah satu
sumber daya alam
di daerah tropis, distribusinya
tersebar luas, sangat
diperlukan dan mudah
didapatkan untuk keperluan sehari-hari
oleh masyarakat setempat
sebagai sumber daya
yang berkesinambungan. Di Indonesia
pohon aren sebagian
besar secara nyata
digunakan untuk bahan bangunan,
keranjang, kerajinan tangan,
atap rumah, gula,
manisan buah dan
lain.
sebagainya (Sumarni,
dkk., 2003). Aren
merupakan tumbuhan serbaguna, dimana
setiap bagian pohon aren tersebut dapat diambil manfaatnya, mulai dari
akar untuk obat tradisional.batang untuk berbagai macam peralatan dan bangunan,
daun muda/janur untuk pembungkus kertas
rokok. Hasil produksinya
juga dapat dimanfaatkan,
misalnya buah aren
muda diolah menjadi kolang-kaling, air
nira untuk bahan pembuatan
gula merah/cuka dan
pati/tepung dalam batang untuk
bahan pembuatan berbagai
macam makanan. Ramlan
(1995).
Juanda (2005)
melakukan penelitian etnobotani
mengenai potensi aren
di Jawa Barat.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
masyarakat Kalimantan timur
memanfaatkan aren sebagai bahan
makanan, obat, juga
berguna untuk meningkatkan
pendapatan penduduk desa tertinggal dengan
menjadikannya sebagai sumber
usaha, diantaranya adalah
dari produksi gula aren, bahan
rokok, bahan cindera mata dan bahan sapu.
Menurut Soma,
Komunikasi Pribadi (2006)
masyarakat lokal di
Desa Rancakalong sudah lama
mengetahui cara pemanfaatan
dan pengolahan berbagai jenis
tumbuhan secara tradisional. Dimana pengetahuan lokal
dari masyarakat setempat
ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aren merupakan salah
satu tumbuhan yang
banyak dimanfaatkan oleh masyarakat
Desa Rancakalong, bahkan
mata pencaharian sebagai
petani aren ini merupakan
mata pencaharian sekunder yang
banyak dilakukan oleh
masyarakat Desa sambutan pelita
4,Saat ini populasi
aren di alam
semakin berkurang. Hal
ini disebabkan banyaknya pohon yang
sudah tua, sehingga
tidak produktif lagi
sedangkan upaya peremajaan
populasi aren belum dilakukan
secara maksimal (Mujahidin,
dkk., 2003). Banyaknya
masyarakat yang memanfaatkan aren
untuk kegiatan industri
rumah tangga, tanpa adanya
upaya peremajaan.dikhawatirkan akan menyebabkan populasi
aren tersebut semakin
terancam (Lutony, 1993).
Menurut Rukmana,
Komunikasi Pribadi (2006)
dalam penyebaran aren, masyarakat
Desa Sambutan pelita 4
sangat mengandalkan jasa
dari alam (regenerasi alam)
yaitu melalui peranan musang (Paradoxurus
hermaphroditus). Dimana musang
memakan buah aren
yang sudah matang. Buah
aren yang dimakan
oleh musang bijinya
tidak hancur, tetapi
terbawa keluar bersama kotorannya.
Biji inilah yang
sering mudah berkecambah
dan tumbuh secara
liar menjadi aren.
penggilingan pati
aren, yang masing-masing
setiap harinya menumbangkan
3 batang pohon aren.
Ini berarti 25
pohon aren harus
ditebang tiap tahunnya.
Hal ini merupakan
suatu jumlah yang patut
dirisaukan dan diperlukan
upaya untuk melestarikannya (Soeseno,
2000).
Berdasarkan hal
tersebut di atas,
dapat pula mengakibatkan erosi
pengetahuan masyarakat mengenai potensi
dan pemanfaatan aren
secara tradisional seiring
dengan perkembangan jaman yang
semakin modern, sehingga akan menimbulkan krisis pengetahuan,
yaitu dengan
hilangnya pengetahuan
masyarakat akan pemanfaatan
dan pengolahan aren
secara tradisional yang sifatnya
turun temurun. Oleh
karena itu studi
pemanfaatan dan pengolahan aren perlu
dilakukan di Desa sambutan pelita 4.
1.2.RUMUSAN
MASALAH
Pemasaran pohon aren desa sambutan
pelita 4,masih terbilang lingkup kecil. Usaha gula aren adalah usaha yang dapat dilakukan setiap
orang. Tanaman aren adalah termasuk tanaman yang tidak susah untuk dipelihara,
sehingga memberikan kemudahkan bagi para petani dalam pengelolaannya. Dalam
setiap satu hektar lahan dapat ditanami pohom aren sebanyak 200 batang yang
pada tahun ke enam pohon sudah dapat disadap. Jika pohon aren yang telah bisa
disadap sekitar 100 batang, maka untuk aren jenis genjah dapat memproduksi nira
sebanyak 10-15 liter per hari maka akan diperoleh nira sebanyak 1.000-1.500
liter per hari. Sedangkan aren jenis dalam bisa menghasilkan nira sebanyak
20-30 liter per hari, maka dalam satu hektarnya dapat menghasil nira sebanyak
2.000–3.000 liter per hari. Apabila harga nira per liter adalah Rp1.000, maka
hasil yang diperoleh petani dapat mencapai 1–3 juta rupiah per hari. Jika nira
tersebut diolah menjadi gula maka akan menghasilkan 200-300 Kg gula gula aren.
Jika harga gula di tingkat petani sebesar Rp 9.000/Kg, maka penghasilan kotor
petani gula aren berkisar antara Rp 1,8 juta dan Rp Rp 2,7 juta.
Hasil usaha gula aren ini jelas
merupakan suatu usaha yang sangat mungkin dilakukan dan sangat menjanjikan.
Selain keekonomiannya cukup memadai, juga prospek pasarnya masih tak terbatas.
Sekalipun penerapan teknologi dalam pertanian aren dan usaha gula aren belum
terlaksana dengan baik, tetapi hasil yang diharapkan sudah menunjukkan
keuntungan. Dengan demikian, tanaman aren layak menjadi pilihan untuk terus
dikembangkan menjadi tanaman produktif dalam rangka meningkatkan pendapatan
petani di Wilayah Kalimantan timur,samarinda,sambutan pelita 4,
Namun
dalam kasus ini bapak?, tidak memiliki lahan sendiri, melainkan bagi hasil
dengan warga sekitar.
Beberapa
masalah yang ada dalam petani itu sendiri sebagai berikut:
a.
Aspek Ekonomi
Aspek ekonomi merupakan bagian yang
melingkupi keadaan ekonomi usaha gula aren dan keadaan ekonomi dalam rumah
tangga pengrajin gula aren. Banyak
masalah yang dapat diangkat dalam aspek ekonomi. Dari penelitian yang dilakukan
dapat diangkat beberapa masalah yang menjadi penghambat dalam tumbuh kembangnya
usaha gula aren yaitu
1.
Keterbatasan Modal Usaha Dan Sumber Pembiayaan
Kebanyakan pengrajin gula aren melakukan usahanya bermula
dari modal dalam keluarga. Namun, modal tersebut tidak selalu menjadi penyedia
dalam memulai usaha tersebut, Karena, pengrajin gula aren dihadapi dengan
kebutuhan dalam keluarga dan biaya-biaya lainnya yang menjadi pengeluaran dalam
keluarga. Hal inilah yang menjadikan sulit berkembangnya usaha gula aren, untuk
itu suntikan dana atau bantuan dana sangat diharapkan. Adapun masalah
keterbatasan modal dapat dilihat dari tabel berikut ini
Table
9. Masalah yang dihadapi dalam menjalankan usaha gula aren
|
Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
|
a.
|
Modal
|
36
|
41.86
|
|
b.
|
Pemasaran
|
1
|
1.16
|
|
c.
|
Teknologi yang digunakan
|
10
|
11.62
|
|
d.
|
Bahan bakar
|
33
|
38.37
|
|
e.
|
Tidak ada
|
6
|
6.97
|
Sumber : Data Primer (2011) Setelah
Diolah
Tabel di atas menunjukan bahwa masalah utama dalam
pengembangan usaha gula aren yaitu keterbatasan modal. Modal merupakan salah
satu kunci dalam menjalankan sebuah usaha, tanpa modal usaha tidak akan
berjalan. Keterbatasan modal membuat produksi usaha gula aren tidak akan
berjalan. Dari tabel diatas diketahui 41 persen lebih keterbatasan modal
merupakan masalah yang harus dihadapi pengrajin gula aren dalam mengelola usaha
gula aren.
Biaya yang besar membuat pengrajin
gula aren membutuhkan dana tambahan dalam menjalankan usahanya. Kekurangan
biaya produksi membuat pengrajin gula aren meminjam dana kepada beberapa pihak
seperti, tetangga, koperasi, sanak saudara dan touke. Tabel 29 berikut ini
menunjukan yang dilakukan pengrajin gula aren jika mengalami kekurangan biaya.
Tabel
10. Yang dilakukan pengrajin jika kekurangan biaya
|
Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
|
a.
|
Meminjam
pada tetangga atau koperasi
|
6
|
6.97
|
|
b.
|
Meminjam
pada toke/pengumpul
|
78
|
90.69
|
|
c.
|
Tidak
produksi
|
2
|
2.32
|
Sumber :
Data Primer (2011) Setelah Diolah
Diketahui dari tabel diatas menunjukkan lebih dari 90 persen
pengrajin gula aren melakukan peminjaman uang pada toke atau pedagang
pengumpul. Hal ini cukup beralasan karena selain pedagang pengumpul atau toke
memiliki uang yang cukup banyak yang disimpan dirumah, proses transaksinya
cepat dan tidak rumit. hal inilah yang menjadikan pengrajin gula aren
bergantung pada toke atau pedagang pengumpul.
2.
Kelembagaan Tata Niaga Dan Fluktuasi harga
Kelembagaan tata niaga dalam hal ini
pemasaran sangat dibutuhkan pengrajin gula aren dalam mengatasi ketidak
stabilan harga dikalangan pengrajin gula aren. Harga yang tidak menentu dan
terkesan dimainkan oleh touke menyebabkan kesejahteraan pengrajin gula aren
semakin memburuk. Perlunya kelembagaan tata niaga sangat diharapkan pengrajin
gula aren yang dapat dilihat dari tabel 8 sebelumnya yang menyatakan bahwa 46.52
% pengrajin mengharapkan adanya lembaga pemasaran yang siap menampung dan
menjamin kestabilan harga. Harapan akan adanya kelembagaan dan kestabilan harga
dikalangan pengrajin dapat meningkatkan perrekonomian dalam rumah tangga
pengrajin untuk kedepannya.
Harga merupakan salah satu nilai yang menjadikan suatu
barang berharga atau tidaknya untuk dijual dipasaran. Harga menentukan tinggi
atau rendahnya kualitas dan kuantitas suatu barang. Harga pasaran untuk gula
aren ditingkat pengrajin gula aren ditentukan oleh toke atau pedagang pengumpul
yang ada disekitar industri gula aren. Penentuan harga gula aren tidak stabil
dan ditentukan semaunya oleh toke. Pengetahuan dan wawasan yang minim membuat
pengrajin gula aren kesulitan dalam melihat kondisi harga dipasaran. Hal ini
dimanfaatkan toke dalam memainkan harga, terkadang dapat naik dan terkadang
dapat menurun drastis. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini,
Table 11. Kendala Dalam Pemasaran
|
Jawaban
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
|
a.
|
Harga selalu rendah
|
4
|
4.65
|
|
b.
|
Jarak ke tempat pemasaran jauh
|
2
|
2.32
|
|
c.
|
Harga ditentukan toke
|
35
|
40.69
|
|
d.
|
Tidak ada
|
45
|
52.32
|
Sumber : Data Primer (2011) Setelah
Diolah
Dari tabel diketahui bahwa 40 persen
lebih harga ditentukan oleh touke, penentuan harga oleh toke ini merupakan
salah satu bentuk persaingan dalam mendapatkan keuntungan. Harga antara touke
satu dengan yang lain tidaklah sama. Hal ini yang membuat pengrajin seolah-olah
dipermainkan oleh toke dalam menentukan harga gula aren. Pengrajin tidak dapat
lari dari permainan harga toke tersebut. Hal ini dikarenakan, pengrajin gula
aren mau tak mau harus menjual gula aren untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari dan membutuhkan biaya untuk yang lainnya. Mau tak mau pengrajin
gula aren harus menjual gula aren sesuai dengan harga yang ditentukan
touke/pedagang pengumpul. pengrajin mengharapkan adanya lembaga pemasaran yang
siap menampung gula aren dalam keadaan apapun agar tercapainya harga yang
stabil dan tidak merugikan pengrajin gula aren.
b.
Aspek Sosial
Aspek sosial merupakan bagian yang
melingkupi keadaan budaya dan lingkungan yang ada disekitar usaha gula aren.
Banyak kegiatan sosial yang menjadi budaya masyarakat disekitar pengrajin gula
aren. Kehidupan pengrajin aren bergantung pada penghasilan pendapatan sehari-harinya
baik dari kerjaan utama sebagai pengrajin gula aren ataupun sebagai pedagang,
petani kopi atau tanaman lainnya. Pengetahuan dalam mengelola gula aren didapat
berdasarkan pengalaman pribadi dan ikut serta dalam membantu tetangga atau
kerabat famili. Dari sinilah mulai berkembang usaha gula aren, upaya dalam
meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan dan pengolahan gula aren dulunya
tidak pernah didapat secara formal. Namun, sekarang dengan adanya penyuluhan
dan bimbingan dari instansi pemerintah cukup membantu masyarakat dalam
mengembangkan usaha gula aren. Terbentuknya kelembagaan merupakan salah satu
upaya pemerintah dan kepedulian masyarakat untuk mengembangkan usaha gula aren
agar lebih terorganisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar