Rabu, 09 Desember 2015

kita



BAB I.PENDAHULUAN
1.1.PENDAHULUAN
Hubungan  antara  masyarakat  dengan  lingkungannya  dalam  memenuhi  kebutuhan hidup  berlangsung  sepanjang  masa,  sedangkan  sifat  dan  intensitasnya  mengalami perubahan  sejalan  dengan  perkembangan  kependudukkan  dan  kebudayaannya.  Kehidupan masyarakat  desa  sangat  bergantung  pada  sumber  daya  alam  yang  tersedia  disekitarnya, fungsi  tata  guna  lahan  (pertanian  dan  hutan)  sebagai  sumber  daya  alam memberikan manfaat pengetahuan dan juga pengalaman masyarakat lokal tentang pemanfaatan berbagai tumbuhan dalam kehidupan sehari-harinya.  
Aren  [Arenga  pinnata  (Wurmb.)  Merr.]  merupakan  salah  satu  sumber  daya  alam  di daerah  tropis,  distribusinya  tersebar  luas,  sangat  diperlukan  dan  mudah  didapatkan  untuk keperluan  sehari-hari  oleh  masyarakat  setempat  sebagai  sumber  daya  yang berkesinambungan.  Di  Indonesia  pohon  aren  sebagian  besar  secara  nyata  digunakan  untuk bahan  bangunan,  keranjang,  kerajinan  tangan,  atap  rumah,  gula,  manisan  buah  dan  lain.
sebagainya  (Sumarni,  dkk.,  2003).  Aren  merupakan  tumbuhan serbaguna,  dimana  setiap bagian pohon aren tersebut dapat diambil manfaatnya, mulai dari akar untuk obat tradisional.batang untuk berbagai macam peralatan dan bangunan, daun muda/janur untuk pembungkus kertas  rokok.  Hasil  produksinya  juga  dapat  dimanfaatkan,  misalnya  buah  aren  muda  diolah menjadi  kolang-kaling,  air  nira  untuk  bahan  pembuatan  gula  merah/cuka  dan  pati/tepung dalam  batang  untuk  bahan  pembuatan  berbagai  macam  makanan.  Ramlan  (1995).
Juanda  (2005)  melakukan  penelitian  etnobotani  mengenai  potensi  aren  di  Jawa  Barat.  Hasil penelitiannya  menunjukkan  bahwa  masyarakat  Kalimantan timur memanfaatkan  aren  sebagai bahan  makanan,  obat,  juga  berguna  untuk  meningkatkan  pendapatan penduduk  desa tertinggal  dengan  menjadikannya  sebagai  sumber  usaha,  diantaranya  adalah  dari  produksi gula aren, bahan rokok, bahan cindera mata dan bahan sapu.
Menurut  Soma,  Komunikasi  Pribadi  (2006)  masyarakat  lokal  di  Desa  Rancakalong sudah  lama  mengetahui  cara  pemanfaatan  dan pengolahan  berbagai  jenis  tumbuhan  secara tradisional.  Dimana pengetahuan  lokal  dari  masyarakat  setempat  ini  diterapkan  dalam kehidupan  sehari-hari.  Aren  merupakan  salah  satu  tumbuhan  yang  banyak  dimanfaatkan oleh  masyarakat  Desa  Rancakalong,  bahkan  mata  pencaharian  sebagai  petani  aren  ini merupakan  mata  pencaharian sekunder  yang  banyak  dilakukan  oleh  masyarakat  Desa sambutan pelita 4,Saat  ini  populasi  aren  di  alam  semakin  berkurang.  Hal  ini  disebabkan  banyaknya pohon  yang  sudah  tua,  sehingga  tidak  produktif  lagi  sedangkan  upaya  peremajaan  populasi aren  belum  dilakukan  secara  maksimal  (Mujahidin,  dkk.,  2003).  Banyaknya  masyarakat  yang memanfaatkan  aren  untuk  kegiatan  industri  rumah  tangga,  tanpa adanya  upaya  peremajaan.dikhawatirkan  akan  menyebabkan  populasi  aren  tersebut  semakin  terancam  (Lutony,  1993).
Menurut  Rukmana,  Komunikasi  Pribadi  (2006)  dalam penyebaran  aren,  masyarakat  Desa Sambutan pelita 4  sangat  mengandalkan  jasa  dari  alam  (regenerasi  alam)  yaitu  melalui  peranan musang  (Paradoxurus  hermaphroditus).  Dimana  musang  memakan  buah  aren  yang  sudah matang.  Buah  aren  yang  dimakan  oleh  musang  bijinya  tidak  hancur,  tetapi  terbawa  keluar bersama  kotorannya.  Biji  inilah  yang  sering  mudah  berkecambah  dan  tumbuh  secara  liar menjadi aren.
penggilingan  pati  aren,  yang  masing-masing  setiap  harinya  menumbangkan  3  batang  pohon aren.  Ini  berarti  25  pohon  aren  harus  ditebang  tiap  tahunnya.  Hal  ini  merupakan  suatu jumlah  yang  patut  dirisaukan  dan  diperlukan  upaya  untuk  melestarikannya  (Soeseno,  2000).
Berdasarkan  hal  tersebut  di  atas,  dapat  pula  mengakibatkan  erosi  pengetahuan  masyarakat mengenai  potensi  dan  pemanfaatan  aren  secara  tradisional  seiring  dengan  perkembangan jaman  yang  semakin modern,  sehingga  akan menimbulkan krisis  pengetahuan,  yaitu  dengan
hilangnya  pengetahuan  masyarakat  akan  pemanfaatan  dan  pengolahan  aren  secara tradisional  yang  sifatnya  turun  temurun.  Oleh  karena  itu  studi  pemanfaatan  dan  pengolahan aren  perlu  dilakukan  di  Desa sambutan pelita 4.
1.2.RUMUSAN MASALAH
            Pemasaran pohon aren desa sambutan pelita 4,masih terbilang lingkup kecil. Usaha gula aren adalah usaha yang dapat dilakukan setiap orang. Tanaman aren adalah termasuk tanaman yang tidak susah untuk dipelihara, sehingga memberikan kemudahkan bagi para petani dalam pengelolaannya. Dalam setiap satu hektar lahan dapat ditanami pohom aren sebanyak 200 batang yang pada tahun ke enam pohon sudah dapat disadap. Jika pohon aren yang telah bisa disadap sekitar 100 batang, maka untuk aren jenis genjah dapat memproduksi nira sebanyak 10-15 liter per hari maka akan diperoleh nira sebanyak 1.000-1.500 liter per hari. Sedangkan aren jenis dalam bisa menghasilkan nira sebanyak 20-30 liter per hari, maka dalam satu hektarnya dapat menghasil nira sebanyak 2.000–3.000 liter per hari. Apabila harga nira per liter adalah Rp1.000, maka hasil yang diperoleh petani dapat mencapai 1–3 juta rupiah per hari. Jika nira tersebut diolah menjadi gula maka akan menghasilkan 200-300 Kg gula gula aren. Jika harga gula di tingkat petani sebesar Rp 9.000/Kg, maka penghasilan kotor petani gula aren berkisar antara Rp 1,8 juta dan Rp Rp 2,7 juta.

Hasil usaha gula aren ini jelas merupakan suatu usaha yang sangat mungkin dilakukan dan sangat menjanjikan. Selain keekonomiannya cukup memadai, juga prospek pasarnya masih tak terbatas. Sekalipun penerapan teknologi dalam pertanian aren dan usaha gula aren belum terlaksana dengan baik, tetapi hasil yang diharapkan sudah menunjukkan keuntungan. Dengan demikian, tanaman aren layak menjadi pilihan untuk terus dikembangkan menjadi tanaman produktif dalam rangka meningkatkan pendapatan petani di Wilayah Kalimantan timur,samarinda,sambutan pelita 4,
            Namun dalam kasus ini bapak?, tidak memiliki lahan sendiri, melainkan bagi hasil dengan warga sekitar.
            Beberapa masalah yang ada dalam petani itu sendiri sebagai berikut:
a.      Aspek Ekonomi 
            Aspek ekonomi merupakan bagian yang melingkupi keadaan ekonomi usaha gula aren dan keadaan ekonomi dalam rumah tangga  pengrajin gula aren. Banyak masalah yang dapat diangkat dalam aspek ekonomi. Dari penelitian yang dilakukan dapat diangkat beberapa masalah yang menjadi penghambat dalam tumbuh kembangnya usaha gula aren yaitu
1.       Keterbatasan Modal Usaha Dan Sumber Pembiayaan
Kebanyakan pengrajin gula aren melakukan usahanya bermula dari modal dalam keluarga. Namun, modal tersebut tidak selalu menjadi penyedia dalam memulai usaha tersebut, Karena, pengrajin gula aren dihadapi dengan kebutuhan dalam keluarga dan biaya-biaya lainnya yang menjadi pengeluaran dalam keluarga. Hal inilah yang menjadikan sulit berkembangnya usaha gula aren, untuk itu suntikan dana atau bantuan dana sangat diharapkan. Adapun masalah keterbatasan modal dapat dilihat dari tabel berikut ini  



Table 9. Masalah yang dihadapi dalam menjalankan usaha gula aren
Jawaban
Frekuensi
Persentase
a.
 Modal
36
41.86
b.
 Pemasaran
1
1.16
c.
 Teknologi yang digunakan
10
11.62
d.
 Bahan bakar
33
38.37
e.
 Tidak ada
6
6.97
Sumber : Data Primer (2011) Setelah Diolah
Tabel di atas menunjukan bahwa masalah utama dalam pengembangan usaha gula aren yaitu keterbatasan modal. Modal merupakan salah satu kunci dalam menjalankan sebuah usaha, tanpa modal usaha tidak akan berjalan. Keterbatasan modal membuat produksi usaha gula aren tidak akan berjalan. Dari tabel diatas diketahui 41 persen lebih keterbatasan modal merupakan masalah yang harus dihadapi pengrajin gula aren dalam mengelola usaha gula aren.
            Biaya yang besar membuat pengrajin gula aren membutuhkan dana tambahan dalam menjalankan usahanya. Kekurangan biaya produksi membuat pengrajin gula aren meminjam dana kepada beberapa pihak seperti, tetangga, koperasi, sanak saudara dan touke. Tabel 29 berikut ini menunjukan yang dilakukan pengrajin gula aren jika mengalami kekurangan biaya.



Tabel 10. Yang dilakukan pengrajin jika kekurangan biaya
Jawaban
Frekuensi
Persentase
a.
Meminjam pada tetangga atau koperasi
6
6.97
b.
Meminjam pada toke/pengumpul
78
90.69
c.
Tidak produksi
2
2.32
 Sumber : Data Primer (2011) Setelah Diolah
Diketahui dari tabel diatas menunjukkan lebih dari 90 persen pengrajin gula aren melakukan peminjaman uang pada toke atau pedagang pengumpul. Hal ini cukup beralasan karena selain pedagang pengumpul atau toke memiliki uang yang cukup banyak yang disimpan dirumah, proses transaksinya cepat dan tidak rumit. hal inilah yang menjadikan pengrajin gula aren bergantung pada toke atau pedagang pengumpul.
2.       Kelembagaan Tata Niaga Dan Fluktuasi harga
Kelembagaan tata niaga dalam hal ini pemasaran sangat dibutuhkan pengrajin gula aren dalam mengatasi ketidak stabilan harga dikalangan pengrajin gula aren. Harga yang tidak menentu dan terkesan dimainkan oleh touke menyebabkan kesejahteraan pengrajin gula aren semakin memburuk. Perlunya kelembagaan tata niaga sangat diharapkan pengrajin gula aren yang dapat dilihat dari tabel 8 sebelumnya yang menyatakan bahwa 46.52 % pengrajin mengharapkan adanya lembaga pemasaran yang siap menampung dan menjamin kestabilan harga. Harapan akan adanya kelembagaan dan kestabilan harga dikalangan pengrajin dapat meningkatkan perrekonomian dalam rumah tangga pengrajin untuk kedepannya.
Harga merupakan salah satu nilai yang menjadikan suatu barang berharga atau tidaknya untuk dijual dipasaran. Harga menentukan tinggi atau rendahnya kualitas dan kuantitas suatu barang. Harga pasaran untuk gula aren ditingkat pengrajin gula aren ditentukan oleh toke atau pedagang pengumpul yang ada disekitar industri gula aren. Penentuan harga gula aren tidak stabil dan ditentukan semaunya oleh toke. Pengetahuan dan wawasan yang minim membuat pengrajin gula aren kesulitan dalam melihat kondisi harga dipasaran. Hal ini dimanfaatkan toke dalam memainkan harga, terkadang dapat naik dan terkadang dapat menurun drastis. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini,
 Table 11. Kendala Dalam Pemasaran
Jawaban
Frekuensi
Persentase
a.
 Harga selalu rendah
4
4.65
b.
 Jarak ke tempat pemasaran jauh
2
2.32
c.
 Harga ditentukan toke
35
40.69
d.
 Tidak ada
45
52.32
Sumber : Data Primer (2011) Setelah Diolah
Dari tabel diketahui bahwa 40 persen lebih harga ditentukan oleh touke, penentuan harga oleh toke ini merupakan salah satu bentuk persaingan dalam mendapatkan keuntungan. Harga antara touke satu dengan yang lain tidaklah sama. Hal ini yang membuat pengrajin seolah-olah dipermainkan oleh toke dalam menentukan harga gula aren. Pengrajin tidak dapat lari dari permainan harga toke tersebut. Hal ini dikarenakan, pengrajin gula aren mau tak mau harus menjual gula aren untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membutuhkan biaya untuk yang lainnya. Mau tak mau pengrajin gula aren harus menjual gula aren sesuai dengan harga yang ditentukan touke/pedagang pengumpul. pengrajin mengharapkan adanya lembaga pemasaran yang siap menampung gula aren dalam keadaan apapun agar tercapainya harga yang stabil dan tidak merugikan pengrajin gula aren. 

b.      Aspek Sosial
            Aspek sosial merupakan bagian yang melingkupi keadaan budaya dan lingkungan yang ada disekitar usaha gula aren. Banyak kegiatan sosial yang menjadi budaya masyarakat disekitar pengrajin gula aren. Kehidupan pengrajin aren bergantung pada penghasilan pendapatan sehari-harinya baik dari kerjaan utama sebagai pengrajin gula aren ataupun sebagai pedagang, petani kopi atau tanaman lainnya. Pengetahuan dalam mengelola gula aren didapat berdasarkan pengalaman pribadi dan ikut serta dalam membantu tetangga atau kerabat famili. Dari sinilah mulai berkembang usaha gula aren, upaya dalam meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan dan pengolahan gula aren dulunya tidak pernah didapat secara formal. Namun, sekarang dengan adanya penyuluhan dan bimbingan dari instansi pemerintah cukup membantu masyarakat dalam mengembangkan usaha gula aren. Terbentuknya kelembagaan merupakan salah satu upaya pemerintah dan kepedulian masyarakat untuk mengembangkan usaha gula aren agar lebih terorganisasi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar